deeva collection

Metode Belajar Progresif, Metode Belajar yang Cocok Bagi Generasi Alpha

9 comments
Konten [Tampil]
Generasi alpha adalah mereka yang terlahir pada tahun 20-10 hingga 2024 atau berada pada rentang usia 0-11 tahun. Generasi alpha ini akan mencapai puncak pada tahun 2024. Untuk mendidik mereka kita tidak bisa hanya menerapkan metode pembelajaran konvensional. Kita perlu menerapkan metode lain sesuai dengan era mereka, seperti dengan metode belajar progresif pada generasi alpha.
Metode belajar progresif adalah cara belajar yang aktif, interaktif dan memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengeluarkan ide-idenya agar dia bisa memahami suatu konsep tertentu.
Metode belajar progresif adalah cara belajar yang aktif, interaktif dan memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengeluarkan ide-idenya agar dia bisa memahami suatu konsep tertentu.

Kita juga bisa membahasakannya sebagai learning by doing. Metode belajar yang memberikan anak lebih banyak pengalaman-pengalaman nyata untuk bisa memahami suatu hal. Sebagai contoh ketika anak-anak balita mempelajari tentang warna. Dia bukan hanya melihat saja warnanya tapi kita bisa memberikan dia pengalaman lain.

1. Child Center Learning.

Sebuah prinsip metode belajar progresif yang pertama adalah guru dan orang tua bertindak hanya sebagai fasilitator. Orang tua hanya hadir sebagai pendamping anaknya untuk membina anak supaya pemahaman yang ditangkap, didapat adalah pemahaman yang benar.
Sebuah prinsip metode belajar progresif yang pertama adalah guru dan orang tua bertindak hanya sebagai fasilitator. Orang tua hanya hadir sebagai pendamping anaknya untuk membina anak supaya pemahaman yang ditangkap, didapat adalah pemahaman yang benar.

Untuk saat ini sudah bukan zamannya lagi guru menjelaskan satu persatu materi pada anak. Saat ini era belajar bukan lagi satu arah. Pembelajaran saat ini fokus pada anak, apa yang ingin anak ketahui maka guru dan orangtua memfasilitasi. Apa yang sedang anak pelajari atau apa yang memang kita pelajari kita sajikan itu dan biarkan anak mengeksplorasi mengenai hal itu.

2. Personal life learning

Personal life learning adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Orang tua atau guru menyesuaikan dengan gaya belajar anak. Jika anak tidak suka belajar sambil duduk, diam di depan meja atau layar, dan lebih suka sambil bergerak, maka itu yang perlu kita fasilitasi. Kita memberikan ruang dia untuk bergerak, seperti pada pengertian metode belajar progresif.
Personal life learning adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Orang tua atau guru menyesuaikan dengan gaya belajar anak. Jika anak tidak suka belajar sambil duduk, diam di depan meja atau layar, dan lebih suka sambil bergerak, maka itu yang perlu kita fasilitasi. Kita memberikan ruang dia untuk bergerak, seperti pada pengertian metode belajar progresif.

Jika saat itu tahapan perkembangan anak masih toddler atau di usia 2-3 tahun maka sesuaikan materinya dengan usia 2-3 tahun. Jangan dulu dikasih untuk langsung mengenali angka dan huruf, karena angka dan huruf adalah tahapan perkembangan untuk nanti anak usia di TK akhir menuju SD awal. Jadi kita harus menyesuaikan pembelajaran dengan tahapan perkembangan anak.

Dalam menyesuaikan pembelajaran dengan minat bakat dan potensi anak. Sehingga observasi dari orang tua atau guru menjadi hal penting. Kita harus memperhatikan apa sih sebetulnya yang anak kita suka. Mungkin saat ini dia lagi suka tentang laut, ke depan mungkin berubah suka tentang profesi tertentu misalnya dia lagi senang lihat profesi polisi.

Untuk memberikan pengalaman, maka kita selaku orang tua harus mencari tahu banyak hal mengenai polisi. Misal, apa tugas seorang polisi, dan bagaimana pakaiannya. Kita perlu menyesuaikan dengan minat anak itu.

Jika berkaitan dengan potensi, kita bisa melihat apakah anak kita memiliki potensi mudah menangkap informasi atau sebaliknya, lebih sulit dalam menangkap informasi. Jika kita tahu anak kita bisa menerima informasi, namun agak lambat, maka ini merupakan hasil observasi kita selaku orang tua.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah kondisi psikologi si anak. Sederhanyanya adalah ketika anak lagi mengantuk atau lapar, maka tidak mungkin kita memintanya untuk mempelajari sesuatu, karena tidak akan masuk.

Sehingga sebagai orang tua perlu melihat kondisi psikologi anak-anak seperti dari mood anak. Jika menemukan hal ini, maka orang tua atau guru perlu menyelesaikan permasalahan ini terlebih dahulu. Jika anak sudah siap untuk belajar, baru kita belajar bersama anak.

3. Experiential Learning

Prinsip lain dalam metode belajar progresif bagi generasi alpha adalah experential learning atau learning by doing. Dikatakan learning by doing karena diharapkan orangtua dan guru bisa memberikan pengalaman nyata yang konkrit secara langsung pada anak.
Prinsip lain dalam metode belajar progresif bagi generasi alpha adalah experential learning atau learning by doing. Dikatakan learning by doing karena diharapkan orangtua dan guru bisa memberikan pengalaman nyata yang konkrit secara langsung pada anak.

Tidak mengajar anak berdasarkan text book. Anak-anak tidak lagi hanya belajar atau membaca dari internet. Guru atau orang tua perlu memberikan penguatan, memberikan pengalaman dengan eksperimen sederhana kepada anak.

Sebut saja anak kita saat ini sedang belajar tentang sifat-sifat air. Guru atau orang tua bisa memberikan contoh kepada anak, mengajak mereka untuk membuat percobaan sederhana. Misal sifat air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Kita berikan generasi alpha pengalaman bagaimana prosesnya.

4. Collaboration dan Cooperative Learning

Collaboration dan Cooperative Learning adalah pembelajaran bagi anak-anak melalui interaksi sosial dan kerjasama dengan orang lain untuk menemukan solusi permasalahan.
Collaboration dan Cooperative Learning adalah pembelajaran bagi anak-anak melalui interaksi sosial dan kerjasama dengan orang lain untuk menemukan solusi permasalahan.

Interaksi sosial di sini bukan hanya dengan guru, namun bisa juga dengan orangtua, teman sebaya, kakak atau adiknya.

Collaboration atau kerjasama bertujuan mengajarkan anak bisa menemukan solusi dari permasalahan. Misalnya ketika akhir pekan, liburan keluarga atau ketika di rumah menentukan aktivitas keluarga misalnya mau menentukan menu makan siang. Orang tua bisa mengajak mereka ikut serta, dan memberikan mereka membuat project sesuai dengan bidang yang ditekuni.

Contoh project sederhana yang bisa dilakukan adalah saat mau makan siang. Kita bisa melibatkan anak-anak untuk ikut menentukan menu yang cocok atau diinginkan anak-anak. Sebagai contoh anak-anak memilih makan siang ayam goreng. Di sini bisa terbangun komunikasi dan diskusi dengan anak. Mulai dari mengecek ketersediaan bahan baku seperti ayamnya ada atau tidak, bumbunya sudah lengkap atau belum.

Tidak adanya bumbu, atau minyak goreng, bagi anak-anak merupakan permasalahan. Permasalahan-permasalahan kecil yang dihadapi oleh anak diharapkan difasilitasi oleh orang tua. Mungkin akan akan muncul diskusi antara si Kakak dan si Adik, mereka membagi tugas. Pada kondisi ini ada kerjasama dari proses interaksi. Hal inilah yang diharapkan bisa dilakukan atau diterapkan pada generasi Alfa sehingga bisa memahami pelajaran lebih bagus. Pada akhirnya kita juga bisa melihat minat anak dimana potensi anak itu dimana.

Prinsip metode belajar progresif pada generasi alpha ini diharapkan dapat menjadi bagian dari proses eksplorasi minat dan bakat generasi alpha oleh orang tua. Melalui metode ini anak akan mampu mencari solusi atas permasalahan yang ditemukan. Melatih anak untuk bisa menyelesaikan masalah dengan tim atau bersama saudaranya. Sehingga dengan metode ini, akan benar-benar memberikan mereka pengalaman yang nyata dan konkrit serta memaksimalkan peran menjadi orang tua bagi generasi alpha.

Related Posts

9 comments

  1. Generasi Alpha ini memang butuh penanganan khusus ya, Pak. Agak berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.
    Makasih ya pak infonya... Bagus banget

    ReplyDelete
  2. Masya Allah minsdset orang tua generasi reformasi terkadang masih di dominasi oleh metode konvensional. hiks ..
    Terimakasih sharingnya pak sugi sungguh merasuk ..

    ReplyDelete
  3. Yaah semoga saja penggunaan metode progresif ini saat pembelajaran terlaksana dan sesuai harapan untuk dunia pendidikan yang lebih baik lagi ya.
    Tantangan bagi seorang guru untuk bisa memancing anak-anak lebih aktif saat proses pembelajaran berlangsung.

    ReplyDelete
  4. Ga lagi jamannya anak suruh belajar hafal textbook ya pak, krna yg paling penting penting itu pemahamannya
    Smoga byk sekolahan yg udah menerapkan pembelajaran sprti ini ya

    ReplyDelete
  5. Generasi alpha ini smart sih kuakui. Even anak sendiri deh yang bisa diobservasi di rumah wkwk. Emang beda cara belajarnya, daya tangkapnya, kreatifitasnya bahkan teknik berkomunikasinya. Kalau stimulasi bisa tepat emang jadi cemerlang nih. Semangat menerapkan metode ini ;)

    ReplyDelete
  6. Cara belajar generasi alpha emang beda ya pak. Udah nggak bisa tuh satu arah doang, harus dua arah dan diskusi karena biasanya mereka lebih pintar dan kritis.

    ReplyDelete
  7. Prnting banget ya mengetahui tahapan belajar anak sedang berasada di posisi mana. Biar kita sebagai orangtua tidak salah menempatkan harus memberi pengajaran apa.

    Btw, infonya menarik sekali ini. Berguna banget untuk anak-anakku yang sedang dimasa ingin tahu yang tinggi.

    ReplyDelete
  8. Menyenangkan ya pola ajar yang cocok untuk generasi alpha ini, tapi buat ortu kolonial macam aku butuh effort luar biasa untuk penyesuaian, hehe

    ReplyDelete
  9. Generasi alpha ini ngeri-ngeri sedap sih Pak. jadi boomerang juga kalau kita g tepat kasih metode yang pas

    ReplyDelete

Post a Comment