deeva collection

Bagaimana Mendidik Anak Cinta Membaca di Zaman Internet?

29 comments
Konten [Tampil]
Mendidik anak cinta membaca di zaman internet? Bisa! Inilah judul sebuah webinar tentang dunia parenting yang diselenggarakan oleh Kubah (Komunitas Penebar Siroh) Semarang yang didukung oleh Mels Brownies. Diselenggarakan pada hari Sabtu, 18 September 2021. Webinar ini menghadirkan seorang ibu dua anak, yaitu Marita Ningtyas. Seorang ibu rumah tangga yang keluarganya dekat dengan dunia internet. Untuk mengenal lebih tentang siapa Marita Ningtyas bisa membaca salah satu tulisan saya tentang Pengalaman Mengikuti Blogspedia Coaching. Di sini saya juga menuliskan tentang personal life dari Marita Ningtyas.

parenting
Screenshot Materi

A. Apa Itu Kubah?

1. Visi dan Misi Kubah

Kubah merupakan singkatan dari Komunitas Penebar Siroh. Sebuah komunitas yang memiliki tage line bersama membangun peradaban islam.

Visi dari kubah adalah mewujudkan keluarga indonesia yang tumbuh dan berkembang dari nilai-nilai sirah nabawiyah.

Untuk mencapai visi yang telah ditetapkan maka, Kubah menyusun beberapa misi, yaitu
  1. Mengaji, memahami penerapan dan pentingnya nilai-nilai sirah nabawiyah untuk pendidikan keluarga di Indonesia.
  2. Mengajak keluarga Indonesia menerapkan dan menjaga penerapan nilai-nilai Sirah Nabawiyah dlaam pendidikan keluarga.

2. Filosofi Kubah

mendidik anak cinta membaca
Logo Komunitas Penebar Siroh

Logo dari Kubah - Komunitas Penebar Siroh memiliki makna filosofi berikut:
  1. Kubah terkesan luas yang menggambarkan semangat dalam menebar siroh. Di mana saja berjalan di bumi Allah untuk menyebarkan Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin.
  2. Gambar dengan unsur vertikal, Kubah yang menjulang ke atas melambangkan hablumminallah.
  3. Garis horisontal—melambangkan hablumminannas.
Semua filosofi itu melebur menjadi satu dan berharap Kubah dapat memberikan manfaat untuk ummat.

3. Program Kubah

Kegiatan dan edukasi yang diselenggarakan untuk dapat meningkatkan literasi siroh begitu bervariasi, di antaranya:
  1. Gerakan wakaf buku berjamaah
  2. Seminar parenting
  3. Event bersama pakar
  4. Berkisah utnuk meningkatkan literasi siroh
  5. Kelas pejuang wakaf
  6. Ngaji bareng Kubah
  7. Kelas Upgrade Diri
  8. Mengaji Siroh
  9. Rumah Cahaya Kubah

B. Mendidik Anak Cinta Membaca di Zaman Internet.

Hampir dua tahun terakhir semua kehidupan beralih dalam dunia internet. Jika sebelumnya hanya digunakan untuk jualan online atau kebutuhan kantor, kali ini internet menjadi kebutuhan utama.

Semua orang dekat dan lekat, ini ditunjukkan dengan begitu tingginya pengguna internet yang meningkat.

Dalam sesinya untuk menjelaskan pengaruh dari internet, Marita juga memberikan ulasan sebuah sebuah film yang menceritakan bahwa pada awalnya internet memang memiliki tujuan yang baik yang bisa menyajikan informasi. Namun dalam perjalanannya semakin banyak juga hal tidak baik.

“Tidak ada hal besar yang memasuki kehidupan manusia tanpa kutukan”.(Kutipan Film)

Artinya selama ini  kita tidak menyadari adanya kutukan besar di balik internet. Di balik penggunaan internet, dalam film diceritakan bagaimana setiap aktivitas kita benar-benar dilacak oleh google. Tanpa disadari kita dilacak oleh google secara sukarela.

1. Internet dan pengaruhnya untuk anak

Internet sebagai sebuah tempat bagi siapapun di mana mereka bisa menciptakan dan menaruh konten buatan mereka.

Internet jelas memiliki pengaruh yang besar bagi anak dan orang tua. Namun demikian orang tua perlu juga menyadari bahwa internet tidak sepenuhnya baik dan tidak sepenuhnya jelek.

Artinya sebagai orang tua harus betul-betul bisa menguatka oernanya dalam memanfat oenggunaan internet sehingga bisa menjadi teknologi tepat guna.


2. Manfaat internet

Selain memiliki pengaruh dalam kehidupan anak, internet juga memiliki beberapa manfaat yang bisa kita ambil hikmahnya, yaitu:
  1. Anak mendapat wawasan/nformasi yang lebih luas
  2. Anak memiliki kreativitas dan potensi anak untuk yang anak berkembang.
  3. Sebagai sarana hiburan
Manfaat yang ada akan dapat diperoleh jika ornagtua bisa menjadi orang tua yang seutuhnya, yang bisa menjadi sahabat, konselor bagi anak-anaknya. Manfaat ini juga akan tercapai jika orang tua bisa bijak dalam menggunakan internet.

Lantas apakah manfaat ini sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan, internet?

Disampaikan bahwa internet bak mata pisau yang yang bermata dua. Manfaatnya tak terbantahkan. Semua orang merasakan manfaat dari keberadaan internet ini. Namun, jika kita tenggelam di dalamnya, lalu bertemu hal buruk dan kita tidak punya bekal cukup, dan kita tidak punya bekal cukup untuk menghadapinya, akibatnya tak tertanggungkan.

Sehingga Orang tua perlu memiliki kontrol kepada anak dalam menggunakan internet. Jangan sampai anak dibiarkan begitu saja karena akan membuat anak kecanduan. Sulit bahkan tidak mau lepas dari gadget.


3. Bahaya internet

Selain memiliki manfaat, penggunaan internet yang tidak bijak juga akan menimbulkan beberapa dampak yang berbahaya bagi anak, seperti:
  1. Kecanduan nonton, media sosial, game online, dan pornografi.
  2. Malas belajar, anti sosial, emosional, hingga ganguan mental dan kejiwaan.
  3. Terpapar berita hoax
  4. Cyber crime.
Melihat bahaya diatas, orang tua perlu fokus pada perannya, utamanya dalam memberikan pengawasan penggunaan internet. Bahkan membatasi anak agar tidak berinteraksi dengan gadget dan internet sebagai mana dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam dunia teknologi.

4. Alasan Orang Tua Menyodorkan Gadget Berinternet

Mengapa orang tua suka memberikan gadget kepada anak? Beberapa alasannya adalah karena orang tua ingin:
  1. Agar anak anteng
  2. Agar anak tidak lari-lari.
  3. Agar tidak mengganggu aktivitas orang tua.
Jika dilihat, tujuan awal dari memberikannya begitu sederhana, namun saat keterusan itu akan menjadi berubah. Ketika keterusan maka anak akan semakin mengenal apa yang biasa dipegangnya. Semakin mencintai yang dipegangnya. Semakin senang dengan gadget dan segala fiturnya yang tidak dipantau dan tidak dibatasi oleh ornag tua.

Ada sebuah pertanyaan besar yang kemudian muncul, manakah yang lebih familiar untuk anak? Kisah-kisah islami, siraoh nabawi, tentang ulama? Akankah kita biarkan anak-anak dekat dengan tokoh-tokoh zaman now dari pada dengan mengenal para nabi, rasul dan ulama yang harusnya menjadi teladan?

Kasus yang terjadi saat ini adalah orang tua beranggapan saat ini merupakan zamannya gadget dan internet sehingga merasa susah untuk menjauhkan anak-anak dari keduanya.

Orang tua lebih memilih menyodorkan kepada anak gadget dan internet dibandingkan dengan menyodorkan buku kepada anak.

Pertanyaannya kenapa kita tidak bisa menghadirkan buku untuk anak? Apakah susah atau malas? Apa sebenarnya musuh kita dalam mewujudkan anak cinta membaca? Jawabanya adalah pada malasnya diri kita. Bukan pada media yang ada di sekitar atau di lingkungan kita.
“Ayo jadilah orang tua yang betulan bukan kebetulan” Abah Ihsan

5. Membatasi anak bermain gadget

Mungkin ada pertanyaan, bisakah orang tua membatasi anak bermain gadget dan mendekatkannya dengan buku? Jawabanna sangat bisa, untuk itu ornag tua perlu melihat beberapa check list yang disebut dengan Checklist Sadar Bencana:
  1. Sudahkan anak memiliki gawai sendiri?
  2. Apakah gawai anak-anak terhubung ke internet?
  3. Apakah anak-anak sudah diberikan batasan dalam menggunakan gawai?
  4. Jika anak main games, tahukah kita nama game yang dimainkan?
  5. Berapa kali dalam sehari ngomel karena masalah game, main HP/nonton youtube, tapi tidak ada solusi?
  6. Siapa yang memberikan HP agar anak anteng agar tidak rewel?
  7. Apakah di rumah disediakan buku?
  8. Sudah ada jadwal khusus untuk membaca buku?

6. Haruskah orang tua membatasi teknologi untuk anak?

mendidik anak cinta membaca
Screenshot Materi

Iya, karena efek buruk dari teknologi bagi anak akan sangat terasa. Seperti 5 tokoh ini, Bill Gates, Tim Cook, Chris Anderson, Evan Williams, dan Steve Jobs. Mereka tahu bahayanya teknologi sehingga tidak mau keluarga mereka merasakan dampak buruk internet.

Apakah kita akan kalah dengan mereka tokoh yang memang bergelut dengan teknologi namun membatasi penggunaan teknologi bagi keluarganya?

Alasan lain mengapa kita harus membatasi teknologi pada anak adalah karena seberapapun canggihnya teknologi, peran orang tua tidak bisa digantikan.
Teknologi adalah Penunjang masa depan dan dibuat untuk memecahkan masalah setiap orang, tetapi pengasuhan orang tua tetap tidak dapat dipindahtangankan terhadap canggihnya teknologi (Kak Mumu Ownee Kakatu dan Monitory)

C. Tugas Orang Tua Milenial

1. Trust

Timbulkan kepercayaan anak pada orang tua. Ketika anak percaya pada orang tua maka itu berati anak dekat dengan orang tua sehingga orang tua bisa memberikan edukasi.

2. Edukasi

Edukasi tidak akan bisa dilakukan jika tidak ada rasa percaya anak pada orang tua. Sebaliknya, jika ada rasa percaya, maka orang tua bisa masuk memberikan edukasi pada anak, maka orang tua bisa nenjalankan fungsi kontrol kepada anak.

3. Kontrol

Fungsi kontrol ini bertujuan untuk memberikan batasan kepada anak agar tidak keterusan. Selain itu dengan adanya fungsi kontrol, orang tua bisa melakukan pengawasan pada konten dan waktu anak.

4. Bangun Komunikasi dan keterlekatan

Keterlekatan ini perlu dibangun, karena jika kelekatan tidak terpenuhi maka emosi menjadi tidak genap, anak cenderung gampang murung, depresi, mencari kebahagiaan lain (Blast). Ketika ini terjadi, maka yang terjadi adlaah anak akan mengalami kecanduan.


D. Resep Mendidik Anak di Era Digital

cara mendidin anak cinta membaca
Screenshot Materi

1. Kelekatan emosi

Kelekatan emosi merupakan kualitas interaksi positif dan timbal balik antara orang tua/orang dewasa yang mengasuh dengan anak.

Adapun ciri dari keterlekatan emosi ini adalah sikap tenang, ceria, hangat, respon positif terhadap kebutuhan anak dan masalah anak.

Kelekatan utama seorang anak dengan seorang ibu dimulai sejak pemberian asi, yang dibangun dengan memeluk, mencium, menyentuh, dan tersenyum

Lantas bagaimana cara membangun keterlekatan emoai antara. Orang tua dan anak? Orang tua harus senantiasa hadir memberikan sentuhan kepada anak dan terlibat dalam kegiatan bersama anak. Saat membersamai anak ini, maka orang tua harus tenang, fokus, dan tuntas.

Salah satu gerakan yang bisa digunakan untuk membangun kelekatan emosi adalah dengan membaca buku bersama.

a. Apa Manfaat Membaca?

Membaca memiliki banyak manfaat bagi anak dibandingkan dengan memgang gadget dan internet. DI anatar manfaat membaca adalah:
  1. Membangun kelekatan emosi /bonding time antara anak dan orang tua.
  2. Meningkatkan kinerja otak karena imaginasi anak akan terbangun.
  3. Melatih fokus dan konsentrasi.
  4. Membangun keterampilan mendengarkan, misal dalam bentuk read aloud.
  5. Mengenalkan emosi dan ekspresi. Ini bisa ditunjukkan dengan intonasi orang tua saat membacakan cerita kepada anak. Ini berhubungan dengan berbagai ekspresi emosi.
  6. Memberikan informasi tentang dunia sekitar.
  7. Menumbuhkan keimanan, kebiasaan membaca dan cinta pengetahuan.

b. 9 Tips menumbuhkan minat baca pada anak

  1. Orang tua menjadi teladan bagi anak-anak.
  2. Dorong anak untuk suka membaca, dengan menyediakan buku, kenalkan anak ddngan buku sejak dini.
  3. Kenalkan manfaat membaca kepada anak.
  4. Biarkan anak mengerti, misal mencari informasi melalui buku.
  5. Jangan bebani anak.
  6. Berikan apresiasi, sehingga anak termotivasi
  7. Read aloud
  8. Fokus saat membaca bersama ydia di sambi-sambi dengan kegiatan lain
  9. Sediakan buku di seluruh sudut ruangan.

c. 5 Tips memilih buku untuk anak

  1. Jenis buku
  2. Warna, carilah buku dengan warna cerah, atai ful color.
  3. Konten, pastikan isinya betul-betul mendidik anak, pastikan keamanan konten
  4. Fitur, carilah buku yang bisa untuk bermain sambil belajar, misal ada puzzle, gambar-gambar.
  5. Harga, carilah harga yang sesuai dengan kebutuhan, namun tetap mepertimbangkan sumber bacaan yang berkualitas.

2. Komunikasi

Komunikasi yang perlu dibangun oleh ornag tua dengan anak adalah komunikasi dua arah dan bermakna dan bisa menjadi pondasi perilaku sosial positif. Pondasi yang meliputi kemampuan beradaptasi, bersosialisasi, bermain bersama teman, bekerjasama, dan bernegosiasi.

a. Edukasi Dalam Komunikasi

Dalam komunikasi dengan anak, orang tua bisa memberikan edukasi mengenai beberapa hal, yaitu
  1. Bahaya Sinar biru
  2. Siapa role model
  3. Perintah dan manfaat membaca
  4. Keahlian apa saja yang mereka miliki
  5. Bantu anak menemukan potensi
  6. Bagaimana menggunakam internet dengan baik, tahu manfaat dan resikonya.
Langkah awal untuk menunjukkan manfaat membaca secara religius bisa ditempuh dengan menceritakan kepada anak tentang bagaimana mereka membiasakan diri membaca karena Allah. (Ustaz Fauzil Adiim - Membuat Anak Gila Membaca, Hal. 206)
Kita ceritakan kepada anak kita kebaikan orang yang suka membaca, manfaat apa yang mereka lakukan dari membaca, serta bagaimana membaca karena Allah dapat mengantarkan kita meraih ridho Allah. Sesudah itu, kita ceritakan tentang orang-orang yang tidak mau membaca beserta akibatnya. (Ustaz Fauzil Adiim - Membuat Anak Gila Membaca, Hal. 206)

 

b. Menyeimbangkan gadget dan buku.

Dalam penggunakan gadget atau buku pastikn menerapkan prinsip 3D pengunaan gadget:
  • Dibutuhkan
  • Didampingi
  • Dipinjamkan
Tekankan pada anak untuk dalam menyeimbangkan gadget dan buku dengan menerapkan dengan konsep BAIK, yaitu
  • Bertanggung jawab
  • Aman, carilah konten-konten yang aman dan mendidik
  • Inspiratif, gunakan internet dengan
  • Kreatif

3. Konsisten

Konsisten merupakan pola hidup yang ajeg. Hal ini perlu dilakukan karena anak membutuhkan proses dan pendampingan. Anak membutuhkan tauladan dari orang tua atau orang dewasa. Adanya kebebasan plus batasan aturan, di mana aturan ini berhubungan dengan stabel relationship, yaitu hubungan yang stabil karen aadanya aturan, dan dengan konsisten akan tahu ada konsekuensi yang harus ditanggung jika melanggar aturan.

Dalam penerapannya orang tua harus tegas, selaras dan bersinergi dengan pasangan, sekolah dan orang dewasa di sekitar anak maupun masyarakat agar tidak mudah stres. Satu hal yang juga didak kalah penting adalah harus memiliki ilmu. Ini bisa ditumbuhkan dengan menghadiri pertemuan orang tua di sekolah, seminar, pelatihan, bergabung dengan komunitas parenting.

Untuk membangun dan menjaga konsistensi dalam membaca bisa diterapkan beberapa hal berikut:
  • Menjadwalkan jam membaca di rumah dan berdiskusi tentang isi bacaan.
  • Memberikan batasan yang jelas tentang kapan boleh pegang gawai, game apa saja yang boleh dimainkan anak.
  • Diskusikan konsekuensi jika melanggar aturan.
Berbicara mendidik anak cinta membaca bukan sekedar berbicara tentang membaca itu sendiri. Orang dewasa, dalam hal ini orang tua perlu memahami banyak hal, diantaranya tentang pengaruh, manfaat, dan bahaya internet. Tidak hanya itu, orang tua juga perlu memberikan contoh, menjalin komunikasi, memberikan edukasi dan konsisten dalam mendidik anak cinta membaca di zaman internet. 

Related Posts

29 comments

  1. Menjadi orangtua di era ini memang kudu bisa narik ulur kebijakan dengan anak-anak

    Era internet n gadget membuat ortu seringkali terjebak rasa serba salah

    ReplyDelete
  2. Masyaallah terimakasih infonya mas ugi. Pencerahan banget.

    ReplyDelete
  3. Internet emang godaan terbesar pak! Udah dilarang gimana juga masih tetep ja nie, kyknya harus rajin stimulus lagi ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah zamannya, jadi didik sesuai zaman namun tetap ada pembatasa dan pengawasan

      Delete
  4. Tantangan banget mendidik anak diera digital ini, makanya kami (saya dan teman -teman di Ibu Profesional) membuat tim rumah bijak digital. Boleh berkunjung ke Web dan media sosial kami. Tim kami mengajak keluarga Indonesia untuk bijak dalam mengunakan teknologi digital demi pendidikan dan kesehatan anak Indonesia.

    ReplyDelete
  5. Emang kadang jadi problem si masalah gadget ini, nggak bisa dilarang begitu aja karena memang jamannya udah internet dan gadget. Tinggal pintar-pintanya orang tua saja.

    ReplyDelete
  6. Catatan penting untuk para orang tua zaman now 😁

    ReplyDelete
  7. Related dg apa yg kualami ini pak. Dsn kedelapan pertanyaan diatas begotu mengena. Hhhha, jadi flash back awal berjuang mengalihkan dari gadget ke buku. Benar² butuh habits yg baik sejak dini agar anak dibawah usia 2th tidak dikenalkan gadget dulu.

    ReplyDelete
  8. Senengnya baca info yang detail begini.. Menyimak dengan serius nih. Nanti di share ke teman-teman

    ReplyDelete
  9. Harus bgt bijak memang masalah gadget ini. Harus sesuai kndisi, kebutuhan, dan urgentnya. Reminder bgt nih artikelnya :') apalagi part ngasih gadget agar anak anteng. Duh siapa nih yang begini ngaku! (Aku kadanh wkwk) :(

    ReplyDelete
  10. Minat baca di kalangan anak tingkat menengah, apalagi di tingkat usia dini bener bener sudah sangat minim... Pemberian gadget menjadi jalan simpel dan pintas utk mengatasi rewelnya anak anak.
    Terima kasih tipsnya

    ReplyDelete
  11. Dulu anak-anak masih kecil, tidak sulit membuat mereka menyukai buku. Kalau sekarang, tantangan lumayan berat. Anak-anak bisa membaca sebagai kebutuhan permainan mereka tetapi mereka tidak tertarik dengan buku

    ReplyDelete
  12. Kadang emang bener sih, ngaku aku, ngasih hape biar anak anteng wwkwk
    Kan emaknya mau metime juga donk hahaha

    ReplyDelete
  13. Emang bener-bener tantangan berat para orang tua untuk membersamai anak di zaman sekarang ya Pak. Semangat para orang tua😁

    ReplyDelete
  14. Artikelnya sangat lengkap..
    Memang jdi tantangan tersendiri sih di era digital skrg ini, tpi insya Allah bisa..
    Alhamdulillah dah merasakan sndiri efeknya 2thn anak tanpa screentime khusus.

    ReplyDelete
  15. Wow lengkap!
    Btw, biar anak anteng dan anak gak lari2 apa bedanya pak hehehe

    Iya sih itualasan yg ukum kita sengar. Anak anteng saat main jp tapi otaknya gak anteng dr paparan yg diberikan lewat gadget.

    ReplyDelete
  16. sebenernya enak ga ada gadget, lama-lama terbiasa mereka ga nyari. tapi kalo ada, mereka ake, bikin nagih, malah repot kudu atur durasi dan pilihan tontonan. intinya kunci di ortu ya pak, nice sharing, terima kasih

    ReplyDelete
  17. Dulu, waktu anak2 masih balita, tiap mau ke mal selalu saya buat perjanjian dulu: "gak boleh beli mainan, hanya boleh beli buku" . Alhasil tempat pertama yang kami tuju selalu toko buku. Alhamdulillah semua cinta buku, hobby membaca

    ReplyDelete
  18. Terima kasih, Kubah. Yang dengan sengaja memperhatikan pendidikan anak dengan memanfaatkan sosial media. Alhamdulillaah, stalking di medsos jadi bisa lebih bermanfaat.

    Putri kami, termasuk yang gemar dengan siroh, terutama yang 60 siroh itu lho kak deeva! :)

    ReplyDelete
  19. Setuju banget kalau orang tua itu sebaik-baiknya contoh bagi putra putrinya. Jangan berharap anak suka baca buku kalau orang tuanya juga anti baca. Apalagi kalua tidak disediakan bukunya...

    ReplyDelete
  20. Memang gak mudah menjadi orang tua zaman sekarang. Dilarang gak mungkin, kalau dibebaskan juga bahaya. Prinsipnya kalau saya pakai metode layangan aja, Mas. Kadang dilepas, kadang ditarik. Meskipun tetap aja anak suka protes karena merasa gak sebebas teman-temannya dalam masalah pergadgetan. ☺

    ReplyDelete
  21. Aku termasuk orangtua yang masih memberikan screentime ke anak, tapi memang hanya untuk memberikan konten dan game yang edukatif aja. Dan aku masi tetep menyediakan buku bacaan di rumah supaya Bian suka dan gemar membaca krn aku pun suka membaca. Semoga aja apa yg aku upayakan adl yg terbaik untuk anakku hehe

    ReplyDelete
  22. wah masih banyak seribu cara ya untuk anak bisa cinta membaca, ketika anak banyak membaca maka pemahamannya pun juga akan semakin luas

    ReplyDelete
  23. Minat baca di kalangan anak tingkat menengah, apalagi di tingkat usia dini bener bener sudah sangat minim... Pemberian gadget menjadi jalan simpel dan pintas utk mengatasi rewelnya anak anak.
    Terima kasih tipsnya

    ReplyDelete
  24. Keren, bener banget kalau internet membawa berkah dengan mudahnya kita menyiapkan informasi kepada anak. Tapi tentu juga perlu diwaspadai kecanduan dari internet yang kadang tidak kita sadari sebagai orang tua. Terima kasih atas rekomendasinya Kak..

    ReplyDelete
  25. Emang jadi tantangan tersendiri ya mbak Untuk orangtua jaman sekarang. Anakku udah nggak main HP nih, eh temennya datang bawa HP. Akhirnya minta HP lagi. Haha

    ReplyDelete

Post a Comment